<p> </p> <p>Desa Petang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, memiliki tradisi unik yang masih lestari hingga kini, yaitu Perang Sambuk. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun pada hari pengerupukan, sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Bagi masyarakat setempat, Perang Sambuk bukan sekadar ritual turun-temurun, melainkan bagian penting dari rangkaian penyucian diri dan lingkungan desa sebelum memasuki hari suci Nyepi.</p> <p>Perang Sambuk dilakukan pada sore hari menjelang matahari terbenam. Warga desa, khususnya kaum laki-laki, berkumpul di area yang telah ditentukan oleh desa adat. Mereka membawa sambuk, yaitu serabut kelapa kering yang kemudian dibakar. Sambuk yang telah menyala tersebut digunakan untuk saling melempar dalam sebuah “perang” simbolis antara dua kelompok. Sekilas, tradisi ini tampak seperti pertarungan yang berisiko karena melibatkan api. Namun, dalam praktiknya, Perang Sambuk dijalankan dengan penuh pengendalian diri. Warga memahami batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar, sehingga ritual ini jarang menimbulkan cedera serius. Hal ini menunjukkan bahwa Perang Sambuk lebih menekankan nilai simbolis daripada unsur kekerasan fisik.</p> <p>Secara makna, Perang Sambuk dipercaya sebagai sarana penetralisir energi negatif yang diyakini muncul menjelang Nyepi. Api yang berasal dari sambuk dimaknai sebagai lambang pembersihan dan pelepasan unsur-unsur buruk yang dapat mengganggu keharmonisan desa. Dengan terlaksananya ritual ini, masyarakat berharap dapat memasuki Nyepi dalam keadaan bersih, baik secara lahir maupun batin. Selain memiliki makna spiritual, Perang Sambuk juga mengandung nilai sosial yang kuat. Tradisi ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan menjadi ruang berkumpulnya warga tanpa memandang latar belakang sosial. Interaksi yang terjalin selama ritual berlangsung memperkuat solidaritas dan rasa kebersamaan antarwarga Desa Petang. Keberlangsungan Perang Sambuk hingga saat ini menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat Desa Petang dalam menjaga warisan budaya leluhur. Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi, tradisi ini tetap dilaksanakan sebagai identitas budaya lokal yang tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.</p> <p>Dengan demikian, Perang Sambuk tidak dapat dipandang semata-mata sebagai atraksi budaya. Tradisi ini merupakan bentuk kearifan lokal yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual. Bagi masyarakat Desa Petang, Perang Sambuk menjadi simbol kesiapan diri dalam menyambut Nyepi sebagai momentum refleksi dan penyucian kehidupan</p>
Perang Sambuk: Api Tradisi di Tengah Senyapnya Nyepi
05 Jan 2026